Tak ada kamu berarti tak ada harumnya kopi, tak ada senja yang bisa dinikmati, tak ada bahagia dan tak ada asa.
Percayalah seindah apapun senja tak akan indah jika ku nikmati sendiri, sebab senyumu tak pernah mau untuk pergi.
Terkadang, aku sering memaksakan diri menikmati kopi bertemankan sepi, ternyata pahitnya selalu bercampur dengan kenyataan.
Aku butuh kamu agar kopiku selalu manis seperti dulu.
Bersama kopi yang tersisa selalu aku sisihkan waktu untuk berharap agar kamu selalu mengingat aku yang tak pernah berniat untuk pindah ke hati yang baru.
Doaku suatu saat kamu bersedia menemuiku, disini tak ada hujan selain hujan dipipi, tak ada malam sepi selain hari yang panas layaknya cemburu melihatmu dengan kekasihmu yang baru.
Disini juga aku siapkan secangkir kopi kesukaanmu, yang sudah aku racik sendiri dengan campuran pedihnya ditinggalkanmu yang membuatku sendu sedan.
Padahal, yang aku harapkan adalah pagi bersama matahari dan kopi hangat didepan jendela dengan sedikit senyumu yang aku pandang dari bahu kirimu seperti saat aku menikmati jalan raya diatas motor tua yang menjadi saksi terciptanya duka lara.
Tak ada kamu berarti tak ada harumnya kopi, tak ada senja yang bisa dinikmati, tak ada bahagia dan tak ada asa.
Percayalah seindah apapun senja tak akan indah jika ku nikmati sendiri, sebab senyumu tak pernah mau untuk pergi.
Terkadang, aku sering memaksakan diri menikmati kopi bertemankan sepi, ternyata pahitnya selalu bercampur dengan kenyataan.
Aku butuh kamu agar kopiku selalu manis seperti dulu.
Bersama kopi yang tersisa selalu aku sisihkan waktu untuk berharap agar kamu selalu mengingat aku yang tak pernah berniat untuk pindah ke hati yang baru.
Doaku suatu saat kamu bersedia menemuiku, disini tak ada hujan selain hujan dipipi, tak ada malam sepi selain hari yang panas layaknya cemburu melihatmu dengan kekasihmu yang baru.
Disini juga aku siapkan secangkir kopi kesukaanmu, yang sudah aku racik sendiri dengan campuran pedihnya ditinggalkanmu yang membuatku sendu sedan.
Padahal, yang aku harapkan adalah pagi bersama matahari dan kopi hangat didepan jendela dengan sedikit senyumu yang aku pandang dari bahu kirimu seperti saat aku menikmati jalan raya diatas motor tua yang menjadi saksi terciptanya duka lara.

Comments
Post a Comment