Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Tahun 2022
 Akhir tahun emang ga jarang akan banyak tulisan baru bertebaran disini, kaya jagung dipanen buat dibakar. penutup biasanya memang lebih complicated, semoga kita bisa bertemu di akhir tahun selanjutnya. 

Hancur&Utuh

 Yang akan melawan dunia bukan orang yang tidak memiliki dirinya sendiri Cara pandanganya tak mungkin keruh. Tak ada harapan untuk yang kecil dimata semua Gapernah masuk akal bagi mereka yang tak merasakan, aku tak punya aku, begitupun semuanya. Aku pelajari sedari kecil, keterpurukan kekebalan itu kekal Seperti bertaruh apa kau dan aku akan jadi seperti itu. Ada cita-cita yang harus digapai tapi sepanjang hidup kita bersama tak bisa habiskan Rasa takut takan bisa digenggam nyaman. Cita dan harapan sejenisnya menjadi seram Pertaruhan ini keruh. Setiap hari harus memasang ikat kepala, berjaga jaga setidaknya jika kepala kita pecah potonganya tidak berhamburan Kita boleh hancur, tapi harus tetap utuh

Cara menangis II

 

1001 cara hidup

Judulnya ngasal, asal ada aja susah mikirnya. Karena hidup emang bukan hal yang mudah tapi bukan hal yang mustahil juga untuk dijalani. Akan ada beberapa part kamu,kita, khususnya aku pengen mati juga, ini serius. Karena yaa beberapa kali dihidupkan dan dimatikan pada waktu yang bergantian bahkan bersamaan itu ga mudah. Apalagi pelakunya orang yang sama, bisa aja beda-beda tapi bersamaan. Akan ada saatnya kamu dituntut berjalan padahal kakimu dipatahkan Akan ada saatnya kamu dituntut membahagiakan padahal dia yang membuat kamu tidak bahagia Bahkan kita dituntut meraih mimpi dengan standar yang ada padahal mimpi kita sudah terkubur dalam Serius, dihidupkan namun dimatikan. Kadang suka mikir "ah inimah biasa aja" atau "ah nanti juga sembuh sendiri" bahkan "ini nanti lewat gitu aja" ya karena obat dan penyakitnya bersumber di titik yang sama. Jadi kita menghindar kita kehilangan obatnya, mendekatpun kita tertancap duri yang itu-itu aja.  Bukan ketergantungan,...

Cara menangis

 Terimakasih 10000000000 x  https://open.spotify.com/episode/4UjzVzvlZt6R77BFV8C8iu?si=TxpJUd7qRbSbod8oByjsTg&utm_source=copy-link

Tanam dan Tanamkan

  Apa yang kamu tanam belum tentu jadi apa yang kamu tuai, bisa jadi tanamanya mati, bisa jadi tanamanya ga berbuah, bisa jadi dituai oranglain. Gausah banyak berharap, apalagi salah naro harapan kaya berharap public figure harus mendidik dan jadi contoh yang baik bagi penontonya, contoh yang baik mah guru, ustadz dan atau ustadzah, bukan public figure. Apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu,mereka, kita semua tuai. Kita tuh ga se spesial itu buat selalu dapetin apa yang kita mau, engga sama sekali. Jadi, masih gabisa tulus? Masih mau ngarepin balesan atas dasar perbuatan kamu? Fokus kepada kata "tanam" yang bisa kamu tuai adalah apa yang kamu "tanamkan" bukan yang kamu "tanam". Yang kamu tanam bisa dituai orang lain, tapi yang  ditanamkan pada prinsip dan diri hanya bisa dituai oleh siapa yang menanamnya. Jadi, apa yang kamu tanam-kan adalah apa yang kamu tuai.

KETERTIKATAN KESEMUAN

  KETERTIKATAN KESEMUAN Yang ditanam belum tentu akan hidup. Yang hidup belum tentu akan tumbuh. Yang tumbuh belum tentu juga berbuah. Yang berbuah juga belum tentu enak buahnya. Yang enak buahnya juga belum tentu disukai. Yang disukai juga belum tentu bermanfaat. Hidup memang berjalan diambang kesemuan.   Ga sedikit ko kita lupa sama hidup kita sendiri. Memaksakan menggapai sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita dengan kemampuan yang gapernah kita punya hanya untuk dilihat orang lain yang belum tentu melihat kita. Useless Pernah ga kita mikir bahwa hidup kita hanya untuk kita sendiri? Tapi tuntutan kita sebagai makhluk sosial mengharuskan kita gabisa untuk itu. Aneh ya   Jadi kadang suka mikir, semuanya gabisa dipaksain karena liat orang-orang yang dulu sama kita berjalan ke arah yang buruk ataupun sebaliknya. Kalo dulu dipaksain harus terus menerus berjalan beriringan mungkin itu gakan terjadi. Ada yang terus berperilaku baik tetapi hasil...

Desadber-Januangry

Akhir tahun emang ga jarang selalu terpikir menjadi akhir semuanya, berat, berada dititik terendah, bahkan ga sedikit pikiran buat exit dari semuanya. Awal tahun juga ga jarang selalu jadi titik buat bangkit dengan susah payah, sendiri, bingung, gatau harus ke siapa. Aku jadi ngerti kenapa orang terdekat adalah orang yang paling besar punya kesempatan untuk menyakiti, karena terkadang mereka berlagak tahu semuanya, padahal engga. Pantesan aja profesi pskiater dan psikolog itu ada. Aku juga jadi sadar bahwa mungkin pada nyatanya aku emang gapernah butuh bahkan gaakan pernah dapet rumah buat sekedar pulang, karena rumah juga butuh kriteria-kriteria untuk siapa-siapa saja yang bisa diterima dirumah itu. Aku gapernah ada di kriteria itu, kecuali dan mungkin aku sendiri. Ya analoginya kaya anjing yang masuk ke masjid, teduh? iya. Berlindung dari panas dan hujan? iya. Bisa dipakai untuk tempat tinggal? Iya. Tapi diterima tidak? Seberuntung itu kalian, mereka, bahkan kamu yang punya dan bisa ...