Akhir tahun emang ga jarang selalu terpikir menjadi akhir semuanya, berat, berada dititik terendah, bahkan ga sedikit pikiran buat exit dari semuanya.
Awal tahun juga ga jarang selalu jadi titik buat bangkit dengan susah payah, sendiri, bingung, gatau harus ke siapa.
Aku jadi ngerti kenapa orang terdekat adalah orang yang paling besar punya kesempatan untuk menyakiti, karena terkadang mereka berlagak tahu semuanya, padahal engga. Pantesan aja profesi pskiater dan psikolog itu ada.
Aku juga jadi sadar bahwa mungkin pada nyatanya aku emang gapernah butuh bahkan gaakan pernah dapet rumah buat sekedar pulang, karena rumah juga butuh kriteria-kriteria untuk siapa-siapa saja yang bisa diterima dirumah itu. Aku gapernah ada di kriteria itu, kecuali dan mungkin aku sendiri. Ya analoginya kaya anjing yang masuk ke masjid, teduh? iya. Berlindung dari panas dan hujan? iya. Bisa dipakai untuk tempat tinggal? Iya. Tapi diterima tidak?
Seberuntung itu kalian, mereka, bahkan kamu yang punya dan bisa memenuhi kriteria itu disaat aku gapunya satupun.
Kadang mikir bahwa semua orang juga punya masalahnya sendiri, semua orang juga problematic, semua orang juga susah payah buat ngejalanin hidupnya. Tapi semuanya lewat gitu aja, aku gabisa.
Enak ya kalo punya rumah buat pulang...
Apa aku pulang ke yang bener-bener memiliki aku aja?
Ditulis di Bandung, dengan keadaan dan perasaan yang kosong juga putus asa dan butuh pertolongan.
Comments
Post a Comment