Malam sepi dengan
hembusan angin membawa ku ke semua harapan yang pernah kita bangun
Seolah-olah angin dengan
sengaja menusuk tubuh merasuk sukma membangun ingatan
Apakah kamu merasakanya
juga?
Bagaimana? Dingin bukan?
Tentu saja lebih dari
itu.
Dengan berat aku berharap
agar semua harapan kita terwujud sebagaimana mestinya
Entah itu masih
dengan “harapan kita” ataupun dengan “harapan kita masing-masing”
Entah dengan siapapun
kamu nanti, semoga tak akan ada lagi harapan-harapan yang berakhir angan
Tak ada lagi harapan
yang akan jadi debu
Tak ada lagi harapan
yang berakhir pilu
Tak ada lagi aku
Tak ada lagi aku
Sudah jadi debu
Dulu
Lucu memang
Kita saling berjanji
akan terus bersama menikmati hidup walau akhirnya kita redup
Kita menikmati senja,hijaunya
pepohonan,yang kini luruh bersama angan
Menyusuri jalan,menikmati
makanan yang kini hanya tinggal kenangan
Tertawa bersama,selalu
bahagia yang semuanya sulit untuk ku lupa
Kini
Tragis memang
Cinta itu buta
Kita sibuk
membahagiakan satu sama lain tanpa mencocok-cocokan satu sama lain
Sehingga kita hanya
orang yang pernah saling membahagiakan yang kini menjadi orang lain
Dulu juga kita lupa
Bahwa kebersamaan
kita adalah proses menyakiti satu sama lain yang dibutakan oleh cinta
Setelah kita sadar
bahwa kita tersakiti, kemana cinta itu pergi?
Bukankan seharusnya
cinta akan tetap ada walau sering rasa sakit menusuk kedalam dada?
Bukankan seharusnya
kita masih dan akan selalu tetap bersama untuk kembali membangun cinta?
Bukankah seharusnya aku?
Ternyata memang bukan
aku
Bukan aku yang akan mewujudkan
semua harapanmu
Terimakasih pernah
bersedia bersama-sama membangun yang akhirnya aku harus membereskan harapan
yang runtuh dengan jatuh bangun
Terimakasih pernah berangan-angan
yang akhirnya kini hanya tinggal kenangan
Terimakasih juga
telah membuang-buang waktumu mencipta semua harapan yang akhirnya kini hanya menjadi
sebuah harap
Tak apa, tak berbeda
jauh hanya “harapan” dan “harap’
Hanya saja semua nya
membuat kita luruh
TERIMA KASIH

Comments
Post a Comment