Apa yang kamu tanam belum tentu jadi apa yang kamu tuai, bisa jadi tanamanya mati, bisa jadi tanamanya ga berbuah, bisa jadi dituai oranglain. Gausah banyak berharap, apalagi salah naro harapan kaya berharap public figure harus mendidik dan jadi contoh yang baik bagi penontonya, contoh yang baik mah guru, ustadz dan atau ustadzah, bukan public figure.
Apa yang kamu tanam adalah apa yang kamu,mereka, kita semua tuai. Kita tuh ga se spesial itu buat selalu dapetin apa yang kita mau, engga sama sekali. Jadi, masih gabisa tulus? Masih mau ngarepin balesan atas dasar perbuatan kamu?
Fokus kepada kata "tanam" yang bisa kamu tuai adalah apa yang kamu "tanamkan" bukan yang kamu "tanam". Yang kamu tanam bisa dituai orang lain, tapi yang ditanamkan pada prinsip dan diri hanya bisa dituai oleh siapa yang menanamnya.
Jadi, apa yang kamu tanam-kan adalah apa yang kamu tuai.

Gud (y)
ReplyDelete