1. Pertama
Sebelumnya
saya akan menjelaskan bahwa yang saya tulis disini adalah fakta yang sebenarnya,
yang setiap hari ada dikepala, melintas dipikiran, yang dimana mungkin saya
tidak terlihat seperti itu. Disisi lain saya berhasil menyembunyikan apa yang
ada dikepala jika memang kalian berfikir bahwa saya tidak pernah merasakan ini,
terimakasih sudah mau menerima saya yang ga asli-asli banget ini.
Tulisan
ini muncul berkat seseorang yang sampai saat tulisan ini saya buat ada untuk
saya dan setidaknya menjadi kontrol untuk saya, karena kalimat “kamu harus
selesai dulu sama diri kamu sendiri” dan atau “kamu harus sembuh dulu sama masalah
kamu” itu benar adanya. Orang itu adalah orang yang semuanya kalian bisa lihat
di tulisan ini. Iya itu orangnya, entah kita akan jadi apa kedepanya tapi jika
saya menjadi manusia “normal” pada umumnya saya tidak akan melupakan kalimat
diatas yang keluar dari orang ini. https://adiksityachyd.blogspot.com/2023/03/dindarsip.html
Maaf
kalo bertele-tele, tulisan dan semua yang kalian baca disini berawal mungkin
sekitar di pertengahan 2017, saya harus menghela nafas dalam dalam untuk
menggali semua memorinya, tapi ini harus saya lakukan-pertengahan tahun 2017
saya gagal meraih cita-cita saya untuk melanjutkan pendidikan yang sedari 2014
saya usahakan, iya 3 tahun. Kalo kalian pernah liat tulisan “cita cita digagalkan
orangtua sendiri” di medsos atau dimanapun itu, saya merasakan hal itu.
Di
2017 saya mendaftar universitas yang gabisa saya sebut namanya, standar penilaianya
dilakukan atas dasar laporan pendidikan saya dari 2014-2017, maka dari itu saya
persiapkan itu. Singkat cerita 2017 itu tiba, saya berhasil mengalahkan sekian
ribu orang di Indonesia atau bahkan mungkin diluar itu. Senang rasanya, perjuangan
tidak sia-sia, 3 tahun berjuang menghasilkan juga, saya berhasil, tapi orangtua
saya berkata lain.
Dari
situ saya menjadi orang yang seperti hilang arah dan harapan mungkin sampai
sekarang, yaaa bisa dibayangkan perjuangan menjaga kekonsistenan selama 3 tahun
itu tidak mudah bagi saya pribadi, saya trauma, dendam, dan menyalahkan
kejadian ini semua bahkan sampai sekarang jika saya mendapatkan hal pahit.
“Kalo
aja saya dulu ga gitu, sekarang saya gabakalan gini”
“Kalo
aja dulu orangtua saya ga gitu, saya bakal kerja seenak itu”
“Kalo
aja ini, saya ga gitu”
Saya
merasakan itu hampir setiap hari, berusaha menyembunyikan setiap waktu. Saya pikir
saya akan berhasil, ternyata tidak hehe. Kalo kalian pembaca ini berfikiran
bahwa saya tidak bersyukur ya boleh, karena saya gabisa atur apa yang kalian
pikirkan bahkan itu tentang saya sekalipun. Yang ada dalam pikiran saya bahkan “Apa
yang harus disyukuri, jika yang disyukurinya aja engga ada.
Saya
sering mikir, emang segininya ya jalanya, kok liat orang-orang kayanya ga gini
deh. Saya tahu bahwa semua orang punya lukanya masing-masing, dan gamungkin
juga mereka memperlihatkan semuanya kepada saya, seperti saya yang tidak
memperlihatkan saya sepenuhnya kepada kalian yang mungkin sampai sekarang bingung
baca tulisan ini.
Gapapa,
tulisan ini hanya untuk arsip, bahwa saya pernah ada diposisi seperti ini,
semoga saya bisa melalui semuanya dengan lapang dada, tanpa putaran yang itu
itu saja dikepala, tanpa tangis sepulang kerja, tanpa tatapan kosong pada langit
langit kamar dan atau ikan ikan saya di akuarium. Saya berharap semua kejadian
ini bisa saya lewati dengan cara saya, walaupun saya gapernah tahu bagaimana
caranya. Mohon doanya
Comments
Post a Comment