Siapa yang tahu semua ini akan tertahan ; Rindu dan Pelukan.
Semuanya tidak pernah segampang itu aku raih.
Perjalanan pergi dan pulang selalu melibatkan perasaan yang sangat amat dalam.
Saat pergi aku ingin cepat pulang.
Saat pulang aku ingin cepat sampai dan tak mau pergi lagi.
Meja dan bangku kecil setia menungguku untuk kembali.
Lama kelamaan meja dan bangku kecil itu pun termakan usia.
Ada yang kakinya sudah reyot, dan busanya pun sudah tak seempuk dulu saat aku pertama kali mendudukinya.
Aku rindu rumah ; Halaman belakang kamar dan pagi yang sejuk dengan tambahan aroma masakan ibu.
Aku hampir lupa, dirumah yang lain ada juga meja dan bangku kecil yang setia menunggu, begitupun dengan pemiliknya : putri kecil yang manja dan sedikit menyebalkan.
Ya! Kekasihku.
Dengan semua cemilan rasa rindu dimejamu, kita pernah bercengkarama dan menyanyi bersama disetiap malam meski hanya lewat telpon.
Kadang sinyal juga menjadi moodbreaker yang hebat untuk kita berdua.
Kadang sinyal juga menjadi moodbreaker yang hebat untuk kita berdua.
“Kamu boleh menyanyikan lagu apa saja, yang penting aku hafal” Begitu ujarku.
Pada ujung jalan rumahmu, mata kita seringkali menjadi saksi bahawa pertemuan kadang tidak adil.
“Rindu yang banyak masa obatnya sedikit, ya gakan sembuh lah rindunya, aku masih kangen” Selalu itu yang kamu sebut diujung jalan itu.
Percayalah sayang, semua kata rindu yang kita ucap adalah investasi.
Karena rindu adalah pohon yang berbuah pelukan dan kecupan dikeningmu yang lebar itu.

Belum baca tapi udah ngantuk duluan :"v
ReplyDelete